Sejarah & Profile
Udjo Ngalagena
Dedikasi Pasangan
Udjo & Uum.
Pada tahun 1966, Mang Udjo Ngalagena bersama istrinya, Uum Sumiati, mendirikan Saung Angklung Udjo di Padasuka, Bandung. Berawal dari keinginan sederhana untuk melestarikan angklung sebagai warisan budaya Sunda, keduanya membangun sebuah sanggar yang tak hanya menjadi panggung seni, tetapi juga pusat pendidikan bagi anak-anak.
"Saung Angklung Udjo tercipta dari kecintaan Abah Udjo (Alm) dan Ibu Uum Sumiati (Almh) terhadap pendidikan anak dan seni budaya tradisional Sunda—sebuah dedikasi yang terus hidup hingga kini."
Arsip Sejarah Padasuka
Sepuluh Anak,
Satu Simfoni.
Bagi Mang Udjo, keluarga adalah fondasi dari setiap getaran bambu. Ke-sepuluh putra-putrinya bukan sekadar penerus, melainkan bagian integral dari misi pelestarian yang ia rintis bersama Ibu Uum Sumiati dari titik nol di Jalan Padasuka.
"Walaupun memiliki berbagai keterbatasan dalam akses jalan, fasilitas, infrastruktur dan SDM, Abah Udjo membangun pondasi pariwisata berbasis komunitas.
Kaulinan
Urang Lembur.
"Prinsip-prinsip ini kemudian dikembangkan menjadi sebuah konsep pertunjukan yang memadukan unsur permainan dan pendidikan, dibalut dengan kesenian Sunda."
Melalui konsep ini, Abah Udjo membuktikan bahwa belajar kebudayaan bisa dilakukan dengan cara yang paling membahagiakan: bermain. Kaulinan Urang Lembur menjadi ruh dari setiap pertunjukan di Saung Angklung Udjo hingga saat ini.
Dokumentasi: Evolusi Pertunjukan Padasuka
“Tidak berlindung dalam keterbatasan, bersepeda dengan jarak kiloan meter ke berbagai titik di Kota Bandung. Untuk membuat para asing penasaran dengan keunikan yang Abah Udjo perlihatkan dengan bambu yang diukir nama kebanggaan.”
“ Saya mendirikan Saung Angklung Udjo bersama-sama dengan istri saya, dengan cita-cita, saya ingin memberikan kebahagiaan kepada setiap insan bermodalkan kemampuan yang saya miliki.”
— Udjo Ngalagena
Perjalanan Saung Angklung Udjo dari masa ke masa
Inscribed in 2010
Warisan Budaya
Takbenda Manusia.
Puncak dedikasi panjang Saung Angklung Udjo diakui secara global pada 16 November 2010, saat UNESCO menetapkan Angklung Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia. Mandat ini terus kami jaga demi harmoni kemanusiaan.
Fondasi Keluarga & Komunitas
Benih gerakan budaya tumbuh dari keluarga besar Mang Udjo dan keterlibatan aktif masyarakat Padasuka dalam menjaga tradisi.
Saung Angklung Udjo Berdiri
Didirikan oleh Abah Udjo & Ibu Uum Sumiati sebagai ruang suci untuk pendidikan dan pelestarian seni Sunda bagi generasi muda.
Pengakuan Dunia (UNESCO)
Angklung diinskripsi sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO, mengukuhkan mandat SAU dalam mengedukasi budaya bambu global.
Ekosistem Berkelanjutan
Terus merawat harmoni antara inovasi pertunjukan, pendidikan dini, dan pemberdayaan komunitas Padasuka yang mandiri.