Biografi Udjo Ngalagena

Sejarah & Profile

Udjo Ngalagena

Udjo & Uum

Dedikasi Pasangan
Udjo & Uum.

Pada tahun 1966, Mang Udjo Ngalagena bersama istrinya, Uum Sumiati, mendirikan Saung Angklung Udjo di Padasuka, Bandung. Berawal dari keinginan sederhana untuk melestarikan angklung sebagai warisan budaya Sunda, keduanya membangun sebuah sanggar yang tak hanya menjadi panggung seni, tetapi juga pusat pendidikan bagi anak-anak.

"Saung Angklung Udjo tercipta dari kecintaan Abah Udjo (Alm) dan Ibu Uum Sumiati (Almh) terhadap pendidikan anak dan seni budaya tradisional Sunda—sebuah dedikasi yang terus hidup hingga kini."

Keluarga Udjo Ngalagena
Keluarga Udjo Ngalagena
1960

Sepuluh Anak,
Satu Simfoni.

"Di tahun 60-an, sepasang suami-istri yang telah dikaruniai 10 orang anak, memulai perjalanan mereka untuk mendirikan sebuah paguyuban kesenian Sunda yang unik."

Bagi Mang Udjo, keluarga adalah fondasi dari setiap getaran bambu. Ke-sepuluh putra-putrinya bukan sekadar penerus, melainkan bagian integral dari misi pelestarian yang ia rintis bersama Ibu Uum Sumiati dari titik nol di Jalan Padasuka.

"Walaupun memiliki berbagai keterbatasan dalam akses jalan, fasilitas, infrastruktur dan SDM, Abah Udjo membangun pondasi pariwisata berbasis komunitas.

Awal Komunitas Padasuka
Pendidikan Angklung Dini

Kaulinan
Urang Lembur.

"Prinsip-prinsip ini kemudian dikembangkan menjadi sebuah konsep pertunjukan yang memadukan unsur permainan dan pendidikan, dibalut dengan kesenian Sunda."

Melalui konsep ini, Abah Udjo membuktikan bahwa belajar kebudayaan bisa dilakukan dengan cara yang paling membahagiakan: bermain. Kaulinan Urang Lembur menjadi ruh dari setiap pertunjukan di Saung Angklung Udjo hingga saat ini.

Konsep Kaulinan Urang Lembur
“Tidak berlindung dalam keterbatasan, bersepeda dengan jarak kiloan meter ke berbagai titik di Kota Bandung. Untuk membuat para asing penasaran dengan keunikan yang Abah Udjo perlihatkan dengan bambu yang diukir nama kebanggaan.”
“ Saya mendirikan Saung Angklung Udjo bersama-sama dengan istri saya, dengan cita-cita, saya ingin memberikan kebahagiaan kepada setiap insan bermodalkan kemampuan yang saya miliki.”

— Udjo Ngalagena

Perjalanan Saung Angklung Udjo dari masa ke masa

UNESCO Recognition

Warisan Budaya
Takbenda Manusia.

Puncak dedikasi panjang Saung Angklung Udjo diakui secara global pada 16 November 2010, saat UNESCO menetapkan Angklung Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia. Mandat ini terus kami jaga demi harmoni kemanusiaan.

Jejak Kenegaraan

Era Proklamator

Ir. Soekarno

Membangun kebanggaan identitas budaya bangsa.

Diplomasi Dunia

Presiden Soeharto

Angklung sebagai instrumen resmi penyambutan tamu negara.

Visi Inovasi

B.J. Habibie

Apresiasi terhadap kecerdasan inovasi seni tradisional.

Duta Budaya

Presiden Megawati

Membawa pesan harmoni ke seluruh penjuru nusantara.

Puncak Pengakuan

S.B. Yudhoyono

Era di mana Angklung terdaftar resmi di UNESCO.

Preservasi Modern

Presiden Joko Widodo

Menjaga mandat budaya di tengah perkembangan zaman.

Era Kepemimpinan Baru

Presiden Prabowo Subianto

Menguatkan pelestarian budaya sebagai identitas dan diplomasi bangsa.
1960s

Fondasi Keluarga & Komunitas

Benih gerakan budaya tumbuh dari keluarga besar Mang Udjo dan keterlibatan aktif masyarakat Padasuka dalam menjaga tradisi.

1966

Saung Angklung Udjo Berdiri

Didirikan oleh Abah Udjo & Ibu Uum Sumiati sebagai ruang suci untuk pendidikan dan pelestarian seni Sunda bagi generasi muda.

2010

Pengakuan Dunia (UNESCO)

Angklung diinskripsi sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO, mengukuhkan mandat SAU dalam mengedukasi budaya bambu global.

Kini

Ekosistem Berkelanjutan

Terus merawat harmoni antara inovasi pertunjukan, pendidikan dini, dan pemberdayaan komunitas Padasuka yang mandiri.

ID | EN
Contact Now