Tentang Bambu

BAMBU termasuk famili Gramineae (rumput-rumputan) yang banyak memberikan arti kepada manusia, seperti gandum, dan padi. Bambu bersifat kosmopolit, artinya dapat hidup di daerah panas dan dingin, di rawa-rawa, tebing-tebing, gunung-gunung, di dataran tinggi dan rendah, serta mempunyai karakteristik mudah tumbuh kembali setelah mengalami musibah, baik kekeringan, kebakaran maupun pengrusakan. Bambu adalah tanaman purba yang telah menjadi penghuni bumi sejak 200.000.000 tahun yang silam (David Farrelly, 1938 : 7).

Tanaman ajaib yang tumbuh tercepat di dunia ini mencapai ketinggian 47,7 inci tiap 24 jam bahkan 121 cm tiap 24 jam (Nagaoka, 1938:53).

 

Karakteristik Bambu

  • Bersifat bambu lentur dan berbuku buku
  • Tumbuh di daerah dataran tinggi dan rendah dan berkelompok
  • Daunnya panjang dan berkembang biak dengan tunas
  • Sampai dengan Umur 3 thn bisa dipanen
  • Mudah berkembang biak dan lebih cepat tumbuh dibanding dengan kayu

Bambu yang dipergunakan sebagai bahan baku Angklung

  • Bambu Gombong (Gigantochloa Pseudoarundinacea (Steud.) Widjaja)
  • Bambu Hitam atau Awi Hideung (Gigantochloa Atroviolacea Widjaja)
  • Bambu Temen atau Awi Temen (Gigantochloa Atter (Hassk.) Kurz)
  • Bambu Tali atau Awi Tali (Gigantochloa Apus (J.A & J.H. Schultes) Kurz)

Keempat jenis bambu tersebut merupakan bambu yang paling baik, karena keempat bambu tersebut memiliki pola distribusi serabut yang lebih merata dibandingkan dengan bambu lain sehingga dapat menghasilkan suara yang lebih baik. Perlu diketahui bahwa disamping keunikannya, alat musik yang terbuat dari bambu itu mempunyai kelemahan yang bersifat alami, kelemahan itu berupa:

  1. Elastisitas bambu/sifat mengerut dan mengembang

Pengaruh cuaca atau iklim setempat dapat menyebabkan perubahan nada yang telah terbentuk pada Angklung. Nada yang bersangkutan dapat menjadi lebih tinggi apabila bambu itu mengerut, atau menjadi lebih rendah apabila bambu itu mengembang. Besar kecilnya elastisitas bambu tergantung kepada kepadatan bambu yang bersangkutan. Apabila bambu itu kurang padat, maka elastisitasnya akan menjadi lebih besar sehingga mudah sekali berubah karena pengaruh iklim. Namun jika bambu itu cukup padat, maka elastisitasnya akan sangat kecil sekali sehingga perubahan nadanya akan hampir tidak kelihatan. Yang terakhir inilah yang terbaik untuk dijadikan Angklung. Kelemahan elastisitas ini masih dapat ditolong dengan melakukan penyeteman kembali.

  1. Bambu menjadi retak/pecah karena perubahan iklim yang drastis

Daya tahan bambu sangat berbeda dengan daya tahan logam terhadap iklim yang drastis atau terhadap suhu yang sangat panas dan udara yang sangat dingin. Pada suhu yang sangat panas, bambu akan mudah retak atau bahkan pecah. Ini akan mengakibatkan nada yang telah terbentuk menjadi rusak dan tidak tertolong

lagi. Sedangkan pada suhu yang dingin, bambu akan mengerut sehingga mempengaruhi nada yang telah ditala.

  1. Bambu menjadi hancur karena dimakan rayap

Rayap adalah hama alami dari segala jenis tumbuhan bambu. Rayap memakan zat selulosa yang terdapat pada bambu. Di seluruh dunia jenis-jenis rayap yang telah dikenal ada sekitar 2000 spesies (diantaranya sekitar 120 spesies merupakan hama), sedangkan di negara kita dari kurang lebih 200 spesies yang dikenal baru sekitar 20 spesies yang diketahui berperan sebagai hama perusak kayu serta hama hutan/pertanian. Terdapat rayap yang menyerang bagian kulit dalam, tetapi ada pula rayap yang menyerang bagian kulit luar dari bambu. Rayap yang

menyerang bambu dapat berasal dari larva yang terdapat di dalam bambu ataupun rayap yang berasal dari luar. Penanganan rayap secara alami adalah dengan cara menghilangkan/mengurangi kandungan zat selulosa yang terdapat didalam bambu. zaman dahulu, proses pengasapan dan perendaman pada sungai yang memiliki arus yang deras merupakan cara yang diyakini dapat mengurangi kandungan zat selulosa yang terdapat pada bambu. Dengan perkembangan teknologi, beragam obat anti rayap diyakini dapat membunuh rayap dengan efektif. Untuk menghindari penyerangan rayap pada bambu, perawatan dengan obat anti rayap secara teratur sangat dianjurkan.

Filosofi Bambu menurut Abah Udjo

Udjo dikenal sebagai seniman angklung dalam kehidupan sehari-harinya tidak dapat dipisahkan dengan bambu, kehidupan diibaratkan selalu berdampingan dengan bambu. 

Kecintaannya terhadap bambu diwujudkan dengan menciptakan lingkungan bambu di lingkungan tempat tinggalnya. Ada tiga tanaman yang sangat dicintainnya yang ada di lingkungan tempat tinggalnya dan  tidak boleh sembarangan orang menebangnya. Pohon-pohon diberi istilah BBC yang merupakan singkatan dari Bambu, Banana dan Coconut. Alasan Udjo mencintai pohon tersebut karena ingin melihat lingkungan secara alami seperti apa yang dijumpainya di alam pedesaaan.