History Header

The Journey of Bamboo

History of Angklung

Menelusuri jejak resonansi bambu dari ritual sakral agraris hingga menjadi warisan dunia yang diakui UNESCO.

Sejarah Awal

Angklung lahir dari jiwa agraris masyarakat Sunda yang menjadikan padi sebagai sumber kehidupan. Instrumen bambu ini diciptakan sebagai persembahan kepada Nyai Sri Pohaci—Dewi Padi pemberi kehidupan. Sejak Kerajaan Sunda (abad ke-12–16), angklung telah menjadi bagian sakral dari ritual penanaman hingga pesta panen Seren Taun.

Tradisi Angklung Sunda

Di Jasinga, Bogor, permainan angklung gubrag masih bertahan sejak lebih dari 400 tahun lampau—saksi hidup bagaimana angklung diciptakan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi memberkati tanaman padi rakyat.

Udjo Ngalagena

Pada 1938, Daeng Soetigna melakukan revolusi dengan mengubah laras angklung dari pentatonik menjadi diatonik, membuka pintu bagi angklung untuk memainkan lagu-lagu internasional. Namun tongkat estafet pelestarian sejati baru dimulai ketika Udjo Ngalagena tampil di Konferensi Asia-Afrika 1955, lalu mendirikan Saung Angklung Udjo pada 1966 bersama istrinya, Uum Sumiati.

Sejak 1966, Mang Udjo mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras pelog, salendro, dan madenda, serta mengajarkan angklung kepada berbagai komunitas dari seluruh dunia. Visinya sederhana namun agung: menjadikan angklung bukan hanya warisan budaya, tetapi jembatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat Padasuka. Puncaknya tiba pada 2010, ketika UNESCO menginskripsikan angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda Manusia—mengukuhkan mandat Saung Angklung Udjo sebagai pusat pendidikan budaya bambu global.

Saung Angklung Udjo
Perjalanan Visual

Simfoni Bambu yang Mendunia

Saksikan bagaimana angklung dari Padasuka memikat hati dunia

1000s

1031

Bukti tertulis tertua ditemukan pada Prasasti Cibadak di Sukabumi bertahun 952 Saka (1031 M). Raja Sunda, Sri Jayabuphati, menggunakan Angklung sebagai media upacara suci—sebuah penghubung spiritual antara manusia dengan Sang Pencipta.

1359

Dicatat dalam buku Nagara Kartagama sebagai media hiburan dalam pesta penyambutan raja. Di Jasinga, Bogor, ditemukan Angklung tertua yang diperkirakan telah berusia lebih dari 400 tahun, saksi bisu keagungan seni bambu Nusantara.

1600s

Abad ke-17

Pada abad ke-17, Angklung menjadi media pemanggil Dewi Sri (Dewi Kesuburan) agar turun ke bumi memberkati musim tanam. Menggunakan laras tritonik, tetratonik, dan pentatonik, alat ini dikenal sebagai Angklung Buhun—getaran bambu yang membawa doa untuk kemakmuran tanah paré.

1900s

1938

Daeng Soetigna melakukan revolusi di Kuningan dengan mengubah laras pentatonik menjadi diatonik. Inovasi ini memungkinkan Angklung beradaptasi dengan musik modern dan komposisi lagu internasional.

1955

Angklung mulai memikat telinga dunia. Musikus Australia, Igor Hmelnitsky, menyatakan kekagumannya. Di perhelatan Konferensi Asia Afrika, Udjo Ngalagena tampil sebagai pemain, langkah awal menuju pendirian Saung Udjo.

1960s

Benih gerakan budaya tumbuh dari keluarga besar Mang Udjo dan keterlibatan aktif masyarakat Padasuka dalam menjaga tradisi.

1966

Udjo Ngalagena dan istrinya, Uum Sumiati, mendirikan Saung Angklung Udjo sebagai ruang suci untuk pendidikan dan pelestarian seni Sunda bagi generasi muda.

2000s

2010

Angklung diinskripsĂ­ sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO, mengukuhkan mandat Saung Angklung Udjo dalam mengedukasi budaya bambu global.

Present

Kini

Terus merawat harmoni antara inovasi pertunjukan, pendidikan dini, dan pemberdayaan komunitas Padasuka yang mandiri.

Saksikan Sejarah Berjalan

Book Experience
ID | EN
Contact Now